Bupati Bekasi Soroti Perizinan Kawasan Rawan Banjir

170

RANNEWS.CO.ID, BEKASI – Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang mengakui bahwa program normalisasi sungai yang digencarkan Pemerintah Kabupaten Bekasi belum mampu mengatasi persoalan banjir secara menyeluruh. Salah satu kendala utama adalah belum selesainya pengerjaan normalisasi di seluruh titik yang direncanakan.

“Upaya normalisasi yang tengah berjalan belum memberikan dampak signifikan terhadap penanggulangan banjir. Di Kabupaten Bekasi ada 120 titik normalisasi, tapi belum tuntas semua,” kata Ade saat ditemui di Cikarang, Sabtu (12/7/2025).

Curah hujan tinggi sejak awal Juli 2025 memicu banjir besar di sejumlah wilayah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sebanyak 29 desa terendam banjir dengan total 13.546 jiwa terdampak.

Luapan Sungai dan Alih Fungsi Lahan

Banjir dipicu oleh meluapnya sejumlah sungai besar seperti Kali Bekasi, Kali Cikarang, Kali Cilemahabang, Kali Ulu, serta beberapa saluran irigasi di wilayah tersebut. Ade menambahkan, berdasarkan laporan BPBD, banjir paling banyak terjadi di kawasan perumahan. Namun, sejumlah perkampungan warga juga ikut terdampak.

“Seperti di Kampung Babakan di Kecamatan Tambun Utara, Kampung Kali Ulu dan Kampung Cibeber di Kecamatan Cikarang Utara, juga wilayah lainnya,” ujar dia.

Ia juga menyoroti persoalan alih fungsi lahan dari kawasan resapan air dan pertanian menjadi perumahan maupun ruko, yang turut memperparah banjir tahunan ini.

“Kita tidak menyalahkan pihak manapun, tetapi sebagai pemerintah, kami berkomitmen menjadi garda terdepan dalam penanggulangan banjir,” kata Ade.

Beberapa Titik Banjir Parah

Di Kecamatan Tambun Utara dan Babelan, banjir melanda Jalan Raya Pisangan sepanjang dua kilometer dan memutus akses warga di Jalan Raya Kebalen menuju Kota Bekasi. Ketinggian air di beberapa titik bahkan mencapai lebih dari 120 sentimeter.

Permukiman di sekitar Kali Gabus, seperti Desa Srimukti dan Desa Sriamur, juga turut terdampak. Namun, Ade menyebut wilayah sekitar Kali Gabus mulai menunjukkan hasil positif dari program normalisasi dan penertiban bangunan liar.

“Di wilayah Kali Gabus sudah tidak ada banjir lagi. Itu karena bangunan sudah kita tertibkan, dan normalisasi sungai sudah dilakukan,” ucapnya.

Evaluasi Perizinan Kawasan Rawan Banjir

Ade juga menyoroti kejadian banjir berulang di Perumahan Artera Hill, Serang Baru, yang tercatat enam kali banjir dalam satu tahun terakhir. Ia menyatakan tengah melakukan evaluasi terhadap perizinan kawasan tersebut.

“Saya sedang bahas soal itu. Tapi kita juga harus lihat, ini sudah jadi tempat tinggal orang, ada anak, ada keluarga. Kalau perizinannya kita ubah begitu saja, bisa jadi tidak diperbolehkan. Nanti kita lihat,” kata Ade.

Pemerintah Kabupaten Bekasi masih terus berupaya menanggulangi banjir melalui berbagai langkah, termasuk percepatan normalisasi, penertiban bangunan di bantaran sungai, serta evaluasi perizinan kawasan rawan banjir. (adv)