Majelis GAZA Gelar Forum Internasional Bahas Krisis Global dari Perspektif Spiritual

496

RANNEWS.CO.ID, JAKARTA – Majelis Gerakan Akhir Zaman (GAZA) menggelar forum strategis bertaraf internasional bertajuk “Refleksi Spiritual Mubasyirat (Mimpi Benar) untuk Menghadapi Krisis Masa Depan Bangsa dan Dunia” pada Kamis (1/5/2025), bertempat di Aula Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta Selatan.

Acara ini dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan yang antusias mengikuti pemaparan dari sejumlah narasumber terkemuka. Di antaranya adalah Prof. KH Abdul Wahid Maktub (Gus Wahid), akademisi President University sekaligus mantan Duta Besar RI untuk Qatar, serta KH Wahfiudin Sakam, ekonom dan praktisi spiritual Islam.

Ketua Panitia, Ahmad Abdul Qohar, menegaskan bahwa forum ini tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga menjadi gerakan spiritual untuk menyiapkan umat dalam menghadapi tantangan global akhir zaman.

“Mimpi-mimpi itu bukan ilusi. Takwil bukan khayalan. Ini adalah strategi ilahiah untuk menghadapi dinamika global yang semakin kompleks,” ujarnya.

Ketua Majelis GAZA, Drs. Raden Diki Candra Purnama, M.M., menyampaikan bahwa konsep mubasyirat merupakan warisan nubuwwah yang masih hidup dalam tradisi Islam. Menurutnya, kumpulan mimpi dari umat Muslim di berbagai penjuru dunia telah dianalisis melalui pendekatan Al-Qur’an, hadis, dan kaidah tafsir klasik.

Ia juga menjabarkan tujuh manfaat utama dari forum ini, antara lain: validasi mimpi dan takwil melalui musyawarah tokoh lintas disiplin; pemetaan krisis dan peluang masa depan; penyusunan roadmap peradaban baru berbasis petunjuk ruhani; penyatuan visi lintas mazhab dan ormas; peneguhan forum ilmiah mubasyirat pertama di dunia Islam; peningkatan kesadaran terhadap campur tangan ilahi; serta penegasan posisi strategis Indonesia dalam narasi akhir zaman.

“Sebagai tindak lanjut, kami akan menyusun Buku Putih Master Plan Ruhani dan membentuk Tim Kecil Mubasyirat. Forum Tahunan Mubasyirat Dunia juga direncanakan sebagai langkah lanjutan,” ujar Diki.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. KH Said Aqil Siradj turut menekankan pentingnya integrasi antara spiritualitas dan intelektualitas dalam membangun masa depan.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan data teknokratik. Islam mengajarkan kita untuk mendengarkan suara batin, ilham, dan petunjuk Allah. Kombinasi akal, wahyu, dan ruhani adalah kunci kejayaan peradaban Islam,” tegasnya.