RANNEWS.CO.ID, CIKARANG PUSAT – Para pembudidaya tambak tidak perlu lagi repot melapor jika ada ikan yang terserang penyakit. Saat ini Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi telah memiliki aplikasi Sistem Informasi Pelayanan Kesehatan Ikan dan Lingkungan atau yang disebut dengan Sipkali.
Melalui Sipkali, pembudidaya ikan cukup mengisi formulir yang telah disediakan di aplikasi ini. Di sana, para pembudidaya dapat melaporkan keluhan penyakit ikan yang mereka derita.
“Ya pelayanannya dulu lewat surat, lama sekali karena ada disposisi, belum lagi petani datang pagi, baru datang sore. Kalau lewat aplikasi Sipkali, tinggal isi formulir di aplikasi ini via smartphone, tinggal tunggu tim kami turun ke lapangan,” kata Kepala Dinas Perikanan dan Budidaya, Toni Dartoni beberapa waktu lalu.
Dijelaskannya, dengan adanya aplikasi Sipkali, keluhan yang disampaikan oleh para pembudidaya tambak dapat ditanggapi dengan cepat. Jangka waktunya, dua hari setelah laporan diterima, Dinas Perikanan bisa langsung mengirimkan tim ke lapangan untuk melakukan pengecekan.
Jika pengujian ikan sakit memerlukan laboratorium, Dinas Perikanan dapat membawanya langsung ke laboratorium di Karawang. Hingga saat ini, Pemkab Bekasi masih mendukung laboratorium milik Kementerian Perikanan di wilayah perbatasan Kabupaten Bekasi.
Sedangkan untuk pengujian seperti PH air bisa dilakukan langsung oleh Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi.
“Kalau dengan sistem ini cukup melapor lewat handphone, kalau mereka datang ke sini khususnya di Muaragemong, Cabangbungin akan membutuhkan biaya, jadi cukup kita ke sana langsung,” ujarnya.
Toni menjelaskan penyakit ikan yang banyak dikeluhkan para pembudidaya ikan adalah bakteri Aeromonas hydrophila yang merupakan salah satu bakteri yang menyerang ikan air tawar. Bakteri ini akan menyebabkan ikan mengalami pendarahan pada tubuh, terutama bagian dada, perut, dan pangkal sirip.
“Penyakit ikan kebanyakan adalah aeromonas, itu yang banyak dikeluhkan, kalau menyerang satu atau satu kolam berdampak semua, dalam waktu dekat bisa menyebabkan kematian, antibiotik harus segera diberikan,” ujarnya. (vin)



