RANNEWS.CO.ID, KABUPATEN BEKASI – Ketua Harian Ormas Garuda Pejuang Masyarakat Indonesia (GPMI), Vicky Setiawan, mempertanyakan Pemerintahan Desa (Pemdes) Burangkeng, Kecamatan Setu, yang tidak melakukan langkah-langkah untuk mencegah terjadinya kasus pencurian dengan pemberatan dan atau perampasan beberapa waktu yang lalu.
Vicky menilai kerja keras kepolisian diragukan oleh oknum kepala desa sehingga masyarakat Kecamatan Setu tidak empati kepada polisi. Hal itu dipatahkan oleh oknum kepala desa yang diduga melakukan pencitraan dengan membuka sayembara bagi yang berhasil menangkap pelaku, karena salah satu korban merupakan warga masyarakatnya sendiri.
“Kenapa pihak Pemdes tidak melakukan langkah pencegahan dengan memasang penerangan di lokasi yang rawan terjadinya kejahatan. Pemdes juga harus mendata warganya yang diduga berkelakuan kurang baik,” ungkap pria yang akrab disapa Vicky Tato ini kepada para awak media.
Vicky pun melihat kurangnya apresiasi kepada jajaran kepolisian yang telah melakukan pengejaran dan penangkapan para pelaku kejahatan begal. Adanya sayembara menurutnya telah membuat apresiasi kepada kinerja kepolisian juga menjadi hilang.
Seperti diketahui, para komplotan begal bersenjata tajam yang beraksi di wilayah hukum Polsek Setu berhasil ditangkap Polisi.
Unit Reskrim Polsek Setu Polres Metro Bekasi, berhasil mengungkap kasus pencurian dengan pemberatan dan atau perampasan disertai sebagaimana dimaksud dalam pasal 365 Ayat 1 dan 2 KUHP dan atau Pasal 480 Kuh Pidana.
“Empat tersangka tersebut adalah I.B, DA, TA dan TVH,” ujar Kapolsek Setu AKP Abdul Rosyid yang didampingi Kasat Reskrim Kompol Gogo dan Kasi Humas Polres Metro Bekasi AKP Hotma Sitompul saat Press Release di halaman Mapolsek, pada Kamis (10/08/2023). (red)



